
PRODUKTIF NEWS.COM
Media Bacaan Berkualitas
DEPOK–produktif news.com -Puluhan orang tua di SMK Negeri 3 Depok akhirnya sumringah, ketika berhasil mengambil ijazah anaknya yang sempat tertahan pihak sekolah, tanpa harus membayar tunggakan.
Tampak orang tua bersama anaknya terus berdatangan dan berkumpul di depan ruang tata usaha (TU) SMKN 3 Depok. Menunggu antrean berharap bisa mengambil ijazah anaknya.
Sesuai informasi, terdapat 41 anak yang tertahan ijazahnya dan memiliki tunggakan berkisar antara Rp.2-9 juta. Tak hanya itu, para orang tua pun juga mempertanyakan Program Indonesia Pintar atau (PIP) yang tak sampai kepada anak-anaknya tersebut.
Alhamdulilah, ijazah anak saya bisa diambil, tanpa harus membayar tunggakan yang ada,” ujar Nurhasanah kepada Radar Depok, Kamis (23/1).
Nurhasanah mengatakan,pelunasan tunggakan sekolah jadi syarat utama dalam pengambilan ijazah anaknya. Hal yang berat baginya, lantaran ia hanya bekerja sebagai pedagang
Saya memiliki tunggakan kepada sekolah sebesar Rp 3 juta,hal ini menjadi hal yang berat,” kata,Nurhasanah.
Nurhasanah bercerita, tunggakan tersebut berasal dari berbagai iuran yang dipungut pihak sekolah,dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan. Seperti,ujian,praktek hingga kegiatan lainya.
“Untuk bayaran saya tidak tahu, tetapi setiap ada ujian atau kegiatan lainya, saya selalu dipintai uang. Dan itu selalu saya bayar dengan cicil dari pertama awal masuk hingga anak saya lulus,hingga dihitung oleh pihak sekolah sampai Rp.3 juta yang belum terbayarkan,” kata Nurhasanah.
Parahnya, kata Nurhasanah, saat ia rutin membayar cicilan tersebut, tunggakanya kepada sekolah tak pernah berkurang. Sehingga membuat dirinya tak mampu menebus ijazah anaknya tersebut.
Saya sudah mencoba berkomunikasi kepada pihak sekolah,akan tetapi kata pihak sekolah, jika tidak ada uang tersebut, ijazah anak saya tidak bisa diambil,” kata Nurhasanah.
Masalah ini, ujar Nurhasanah, tentunya sangat menghambat anaknya untuk mencari pekerjaan. Pasalnya, ijazah merupakan syarat utama dalam melamar berbagai pekerjaan yang ada.
“Sampai saya bilang kepada anak saya,kalau kamu sudah bekerja mungkin bisa menebus ijazah tersebut, ternyata hingga saat ini anak saya belum bekerja juga karena tidak adanya ijazah,” ungkap Nurhasana (SDI).






