
Produktif.news.
DEPOK — Bau busuk menyengat, belatung berserakan, dan lalat beterbangan menjadi pemandangan miris di Tempat Penampungan Sampah (TPS) Sadewa, Jalan Sadewa Raya, Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok.
TPS yang berada di tengah kawasan permukiman tersebut juga berdekatan dengan sejumlah rumah ibadah, di antaranya Gereja Methodist Indonesia, Gereja Kristen Jawa (GKJ), dan Gereja Katolik Santo Matheus Depok.
Kondisi tersebut kembali mendapat sorotan Anggota DPRD Kota Depok, Binton Jhonson Nadapdap, S.H., M.M. Persoalan TPS Sadewa disampaikannya langsung di hadapan Wali Kota Depok dalam Rapat Paripurna DPRD terkait Raperda Perubahan APBD 2026, Kamis (17/9/2026).
Binton menilai kondisi TPS Sadewa sudah membutuhkan penanganan segera. Ia mengungkapkan, saat meninjau lokasi, dirinya menemukan kondisi lingkungan yang kotor, bau menyengat hingga belatung yang berserakan ke sekitar area rumah ibadah.
“Saya ketemu Romo dari Gereja Katolik. Dia bilang perutnya sudah mual karena bau yang sangat menyengat. Jemaat kalau kebaktian hari Minggu harus pakai masker,” ungkap Binton.
Menurut Binton, persoalan tersebut bukan sekadar masalah bau, tetapi juga menyangkut kesehatan dan kondisi lingkungan warga dalam jangka panjang.
Saat melakukan inspeksi mendadak (sidak), Binton yang berasal dari Dapil Beji-Cinere-Limo juga menemukan persoalan lain di lokasi.
Truk pengangkut sampah disebut memakan sebagian badan jalan saat melakukan aktivitas pengangkutan. Bahkan, truk harus mundur hingga masuk ke halaman gereja. Ratusan gerobak sampah juga mengantre sehingga akses warga di sekitar lokasi ikut terganggu.
Persoalan lain terdapat pada posisi TPS yang berada di dekat bibir jembatan kali. Sampah yang tercecer berpotensi masuk ke aliran kali. Saat hujan, air lindi dari timbunan sampah juga dikhawatirkan meluber ke lingkungan sekitar.
Binton menyebut kapasitas TPS dan armada pengangkutan yang tersedia saat ini tidak sebanding dengan volume sampah yang masuk. Ia menyebut hanya sekitar dua truk yang beroperasi setiap hari sehingga sampah kerap tersisa dan membusuk.
Kondisi tersebut kemudian menimbulkan belatung dan lalat yang mengganggu lingkungan sekitar.
Persoalan TPS Sadewa sendiri bukan hal baru. Warga telah lama menyuarakan agar lokasi TPS tersebut mendapat penanganan, termasuk usulan untuk direlokasi.
Binton pun meminta Pemerintah Kota Depok segera mengambil langkah konkret. Ia menawarkan dua solusi untuk mengatasi persoalan tersebut.
Pertama, menambah armada pengangkutan sampah dari dua menjadi empat truk per hari. Dengan demikian, TPS diharapkan dapat dikosongkan setiap hari tanpa menyisakan timbunan sampah, kemudian dibersihkan dan disemprot disinfektan secara rutin.
Kedua, melakukan relokasi TPS. Binton meminta Pemkot Depok mencari lahan baru sekitar 200–300 meter persegi di kawasan Sukmajaya yang jauh dari permukiman padat maupun rumah ibadah.
Sementara lahan TPS lama, menurutnya, dapat dikembalikan menjadi taman atau fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos-fasum).
“Kecamatan Sukmajaya itu luas. Masa tidak ada lahan 200 meter untuk TPS yang layak? Di APBD Perubahan 2026 anggarannya sangat signifikan besar. Berapa sih harga lahan 300 meter? Tidak mahal untuk kesehatan warga,” tegasnya.
Binton menegaskan, persoalan TPS Sadewa bukan merupakan isu agama. Menurutnya, dampak buruk dari kondisi TPS tersebut dirasakan seluruh masyarakat di sekitar lokasi tanpa memandang latar belakang.
“Sebagai Kota Depok yang majemuk, jangan sampai orang berpikir kalau gereja tidak dapat perhatian. Sampah adalah persoalan paling pelik di Depok dan ini harus jadi prioritas,” pungkasnya.
Foto: Dokumentasi TPS Sadewa, Jalan Sadewa Raya, Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. Bb






