
PRODUKTIF NEWS.COM
Media Bacaan Berkualitas
DELI SERDANG,-||,produktifnews.com
17 April 2026. Selamat datang di sirkus keadilan! Hari ini, kita akan kupas dan saksikan pertunjukan kolosal berjudul; ‘Negara Lawan Legiman’. Sebuah drama realita, dimana seorang warga biasa, Legiman Pranata, dipaksa melakukan wisata spiritual tanpa tiket pulang ke tujuh lapis langit birokrasi yang lebih gelap dari lubang hitam.
Di negeri ini, birokrasi bukan lagi soal pelayanan tapi sudah jadi ilmu sihir. Negara maha hadir kalau urusan pajak, tapi langsung melakukan moksa alias menghilang secara gaib kalau urusan hak rakyat.
*BPN; Tempat Sertifikat Melakukan ‘Tapa Brata’*
Legiman datang ke BPN Deli Serdang, mau tanya soal Sertifikat Nomor 477. Tapi apa yang didapat? Bukannya transparansi, dia malah disuguhi kegelapan absolut. Riwayat tanah yang harusnya jadi dokumen publik, mendadak jadi lebih rahasia daripada resep bumbu rahasia KFC. Pejabatnya seolah sedang melakukan tajalli (penampakan) dalam wujud tumpukan berkas yang membatu. Mau cari keadilan di sini? Siapkan saja nyawa cadangan, karena data disini lebih sulit di urai daripada benang kusut di dasar laut.
*PTUN; Altar Formalitas Tempat Keadilan Disalib*
Berpindah ke PTUN, Legiman berharap ada cahaya. Sialnya, dia malah terjebak di labirin kata-kata. Hakim sibuk berdebat, soal tata bahasa dan prosedur kaku. Sementara, hak rakyat terkubur hidup-hidup di bawah tumpukan kertas. PTUN bukan lagi tempat mencari kebenaran, tapi tempat dimana nurani sengaja dibunuh demi memuja formalitas yang tak berguna.
*Kepolisian; Laporan yang Menuju Alam Barzakh*
Laporan pemalsuan identitas sudah dibuat, tapi ditangan penyidik, laporan itu mendadak jadi benda purba. Berkas milik Legiman kini resmi menghuni ‘Alam Barzakh’ laci meja, berselimut debu suci tanda malas sistemik. Mungkin polisi kita lagi nunggu ilham dari langit, supaya berkas itu bisa jalan sendiri ke pengadilan. Karena, kalau nunggu mereka yang jalan, kelihatannya butuh waktu sampai kiamat kurang dua hari.
*Ombudsman; Pengawas yang Sedang Meditasi Kosmik*
Terakhir, Ombudsman. Harapannya sih jadi ‘suara Tuhan’, tapi yang ada malah hening seperti di kuburan. Mereka kelihatannya lagi meditasi, transendental tingkat dewa buat mikirin definisi ‘cepat’, sampai lupa kalau Legiman sudah hampir lumutan nunggu kepastian. Tapi berita heboh kemarin, setidaknya boleh jadi merupakan petunjuk yang nongol di Kejaksaan Agung ‘Ketua Ombudsman’ digiring ke mobil tahanan Kejaksaan !
*Kesimpulan Metafisis; Negara Itu Ada, Tapi Gak Punya Nyawa*
Kisah Legiman, adalah; bukti kalau hukum kita itu cuma Treadmill Kosmik. Kamu disuruh lari sampai berdarah darah, keluar modal banyak, habis waktu, tapi posisi kamu ya tetap di situ-situ saja (titik nol). Gedung kantornya sih mewah, seragamnya mentereng, tapi isinya hampa—kosong tanpa dzat keadilan.
Jadi; selamat buat Legiman Pranata! Anda resmi jadi kolektor kegagalan keadilan paling sabar se-Indonesia. Anda sukses membuktikan kalau di hadapan birokrasi, kejujuran itu cuma dongeng sebelum tidur dan kesabaran itu cuma cara halus negara buat menyiksa rakyatnya pelan-pelan.
Begitulah yang terjadi pada Legiman Pranata, seorang warga Deli Serdang, Sumatera Utara, yang kini sudah merasa lelah dengan proses hukum yang tidak kunjung jelas.
Dirinya terlibat dalam sengketa lahan, dengan Sihar P.H. Sitorus, anggota DPR RI, yang diduga memiliki identitas ganda dan menggunakan KTP palsu untuk menguasai tanah milik Legiman.
Perjalanan panjang Legiman, dari sudah melaporkan kasus ini ke Polda Sumatera Utara dan mengajukan permohonan islah (perdamaian) kepada Sihar, namun sampai saat ini belum juga ada respon baik. Ia bahkan juga telah bersurat ke Kanwil HAM Sumut, namun ironisnya tidak mendapat jawaban.
Kasus ini menyoroti masalah serius dalam sistem hukum Indonesia, terutama terkait dengan mafia tanah dan penyalahgunaan kekuasaan. Legiman disebut-sebut sebagai ‘martir birokrasi’ karena keberaniannya melawan ketidakadilan. (Tim/Red)






