
PRODUKTIF NEWS
Media Bacaan Berkualitas
produktifnews.com-Kisah perjalanan spiritual seorang pendeta asal Australia bernama Gould David menarik perhatian publik setelah ia memutuskan memeluk Islam dan mengambil nama Abdul Rahman. Keputusan itu bukan lahir dari perdebatan teologis terbuka atau polemik antariman, melainkan dari rangkaian peristiwa personal yang berlangsung dalam suasana sunyi, reflektif, dan penuh perenungan. Setelah sekitar empat puluh lima tahun mengabdi di lingkungan gereja, ia menemukan arah hidup baru yang menurut pengakuannya menghadirkan ketenangan batin yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Perubahan besar dalam hidupnya bermula saat ia menghadiri sebuah prosesi pemakaman di kota Perth, Australia. Momentum tersebut menjadi ruang refleksi mendalam tentang kematian, makna hidup, dan pertanyaan tentang ke mana manusia akan kembali setelah hayat berakhir. Dalam suasana duka itu, ia mengaku mulai mempertanyakan kembali keyakinan yang selama puluhan tahun ia pegang dan ajarkan kepada jemaatnya.
Dalam perjalanan di Perth, Gould David menemukan sebuah masjid yang terletak tidak jauh dari hotel tempat ia menginap. Rasa ingin tahu membawanya masuk ke masjid tersebut. Di sana ia disambut secara terbuka oleh seorang imam dan jamaah setempat. Pertemuan itu berlangsung sederhana, tanpa perdebatan atau upaya membujuk. Sang imam kemudian memberinya sebuah mushaf Al Quran sebagai bahan bacaan pribadi.
Menurut penuturannya, pemberian Al Quran tersebut menjadi awal dari proses pencarian yang lebih mendalam. Ia membaca ayat demi ayat bukan untuk mencari perbedaan atau kesalahan, melainkan untuk memahami pesan yang terkandung di dalamnya. Dalam proses itu, ia menemukan penjelasan tentang ketuhanan yang menurutnya sederhana namun tegas, konsep tauhid yang jelas, serta ajaran tentang tanggung jawab manusia sebagai hamba dan sesama makhluk.
Gould David menyatakan bahwa proses membaca dan merenungkan Al Quran ia jalani dalam waktu yang tidak singkat. Ia membandingkan, merenung, dan berdialog dengan dirinya sendiri. Dalam beberapa kesempatan, ia menyampaikan bahwa Islam memberikan jawaban yang selama ini ia cari terkait hakikat Tuhan, tujuan hidup, dan makna kepasrahan manusia kepada Sang Pencipta.
Keputusan untuk memeluk Islam akhirnya ia ambil dengan kesadaran penuh akan konsekuensinya. Ia menyadari bahwa pilihannya akan membawa perubahan besar dalam kehidupan pribadi, sosial, dan profesionalnya. Meski demikian, ia tetap melangkah dan mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian memilih nama Abdul Rahman yang berarti hamba Tuhan Yang Maha Pengasih.
Perjalanan Abdul Rahman menunjukkan bahwa pencarian spiritual dapat berlangsung pada fase kehidupan mana pun, tanpa dibatasi usia atau latar belakang. Kisah ini juga memperlihatkan bahwa hidayah sering hadir melalui peristiwa sederhana yang memicu perenungan mendalam. Sebuah perjalanan, sebuah pertemuan, atau sebuah buku dapat menjadi titik awal perubahan besar dalam hidup seseorang.
Masuk Islam bagi Abdul Rahman bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari fase baru yang menuntut pembelajaran dan konsistensi. Ia menyatakan bahwa menjaga keyakinan dan menjalani ajaran Islam secara utuh adalah proses berkelanjutan yang membutuhkan kesungguhan. Dukungan lingkungan yang kondusif dan ruang dialog yang sehat menjadi bagian penting dalam fase tersebut.
Kisah ini pada akhirnya bukan sekadar tentang perpindahan agama, melainkan tentang keberanian seorang individu mengikuti suara nurani dan menjalani pencarian makna hidup secara jujur. Dalam konteks masyarakat yang majemuk, pengalaman Abdul Rahman dapat dibaca sebagai potret perjalanan personal yang menegaskan bahwa keyakinan adalah hasil dari proses batin yang mendalam dan pilihan sadar seseorang.(SWD).






